Norma maskulinitas menuntut laki-laki untuk selalu terlihat kuat, rasional, dan mampu mengendalikan emosi. Ungkapan “laki-laki tidak bercerita” populer di media sosial untuk menggambarkan kecenderungan pria menyimpan sendiri persoalan asmara mereka. Di Indonesia, tuntutan ini berkaitan langsung dengan standar harga diri, kedewasaan, dan pengakuan sosial. Akibatnya, banyak pria memilih diam, menghindari pembahasan pribadi, atau menyibukkan diri agar tetap terlihat baik-baik saja. Pengelolaan emosi patah hati pada laki-laki muda melibatkan proses sosial yang kompleks. Penelitian yang dilakukan oleh sosiolog Moh. Faiz Maulana dan rekan (2026) terhadap tujuh laki-laki muda Indonesia berusia 19–30 tahun menunjukkan bahwa laki-laki sebenarnya tidak benar-benar bisu atas rasa sakit mereka. Para informan tetap merasakan kepedihan yang membekas meski terus menjalankan aktivitas harian seperti kuliah dan bekerja. Mereka secara aktif mengatur kapan, kepada siapa, dan melalui cara apa kesedihan tersebut boleh diperlihatkan. Pengawasan terhadap diri sendiri membendung dorongan alamiah laki-laki untuk mengekspresikan kerentanan. Keinginan untuk menangis tetap ada saat seorang laki-laki mengalami putus cinta. Namun, kekhawatiran akan cap lemah, terlalu sensitif, atau tidak dewasa memicu hadirnya “rem otomatis” di dalam pikiran mereka. Aturan sosial yang tertanam kuat ini membuat laki-laki secara refleks menahan air mata demi menghindari penilaian negatif lingkungan. Pembatasan ekspresi emosional laki-laki berakar dari norma sosial dan membawa risiko isolasi emosional. Konsep feeling rules atau aturan emosi dari sosiolog Arlie Hochschild menjelaskan bagaimana masyarakat menetapkan batasan ekspresi emosi. Dalam konteks ini, norma toxic masculinity mendorong restrictive emotionality, yaitu kecenderungan membatasi ekspresi emosi. Riset pada tahun 2026 mencatat bahwa pembatasan emosi menciptakan harga sosial yang mahal sehingga laki-laki enggan mencari bantuan profesional. Laki-laki menyalurkan kebutuhan emosional mereka melalui bentuk interaksi yang dapat diterima dalam lingkungan maskulin. Melalui pendekatan caring masculinities, relasi antar-laki-laki terbukti menyediakan ruang kepedulian yang nyata. Laki-laki berbagi kesedihan bukan lewat percakapan emosional yang terbuka, melainkan melalui kegiatan bersama seperti nongkrong hingga larut malam, merokok, dan berkumpul. Penggunaan humor membantu membagikan rasa sakit tanpa harus mengakui kerapuhan, sementara musik patah hati menjadi bahasa alternatif untuk meluapkan perasaan. Ketangguhan seorang laki-laki tidak mengharuskan penolakan atau penyembunyian rasa sakit emosional. Fenomena “laki-laki tidak bercerita” mencerminkan kerja keras laki-laki dalam memenuhi tuntutan sosial untuk selalu terlihat stabil. Menatap isu ini, pembongkaran mitos bahwa kerentanan merusak citra kedewasaan menjadi hal penting bagi kesehatan emosional. Pada akhirnya, ketangguhan dan kerentanan semestinya dapat berjalan berdampingan secara selaras. Konten ini diolah dari artikel The Conversation Indonesia: https://theconversation.com/laki-laki-tidak-bercerita-riset-temukan-ada-beban-maskulinitas-dalam-mengelola-patah-hati-292718
Free account unlocks this ad

